Setiap terlibat dalam proses transformasi, saya selalu bertemu dg 2 kelompok yg berbeda: penerima dan penentang. Semula saya menduga, para penentang adalah orang-orang yg kalah, tersingkirkan, dan maaf, kurang pandai. Tetapi, belakangan saya menemukan, orang-orang yg sangat diuntungkan oleh perubahan dan sangat pandai ternyata jg bisa bergabung dg penentang bagi perubahan yg baik. Demikian pula sebaiknya.
Tidak sulit bagi saya membaca pikiran keduanya. Sebab, hampir setiap hari Rumah Perubahan membawa titipan 2 kelompok itu. Objektifnya sederhana saja: ganti kaset. Teman-teman saya menambahkan: ganti kaset, banting setir. Persis seperti diucapkan para santri di sebuah pesantren di Lamongan.
Seperti computer yg harus di-setting sebelum dipakai, otak manusia dalam menghadapi perubahan rupanya harus diset ulang. Tentu bukan sekedar setting-an margin atas-bawah atau kiri-kanan, melainkan setting-an berpikirnya.
Kata para ahli, mindset adalah set of assumption. Jadi, ia terdiri atas asumsi-asumsi yg dianut seseorang dan sudah tidak cocok dg kebutuhan yg baru. Dalam banyak hal, mereka terkurung pikiran-pikiran dan anggapan-anggapannya sendiri.
Melalui rangkaian proses terapi selama 2-3 hari, kami menyetel ulang. Tentu saja, orang-orang ini harus dibawa ke titik nol lebih dahulu, dikosongkan dari pikiran-pikiran lamanya. Tetapi, proses mengisinya tidak bisa dilakukan secara konvensional. Melalui rangkaian proses bermain dan melatih muscle memory (myelin), pikiran-pikiran baru itu ditata ulang.
Tentu saja, tidak semua orang siap berubah. Tetapi, orang-orang yg mau berubah pasti akan menemukan settingan baru. Seperti kata ahli perilaku Carol Dweck dari Stanford, kami mengamati 2 jenis mindset. Yaitu, growth mindset yg siap berubah dan fixed mindset yg merasa sudah selesai.
Saya sering mengatakan, orang bodoh tak akan selamanya bodoh. Demikian pula orang pintar. Pengamatan saya sela 25 tahun lebih berkarir di kampus, ada orang yg dulunya bodoh menjadi pintar dan ada orang pintar yg berubah menjadi bodoh.
Para Penentang
Aneh sekali, para penentang perubahan biasanya terdiri atas orang-orang yg merasa dirinya pintar. Ternyata, mereka benar-benar pintar berbicara, pandai member argumentasi. Masalahnya, menurut Bu Dweck, mereka itu masuk dalam kategori fixed mindset dg cirri-ciri sebagai berikut.
Pertama, tingkat kecerdasan mereka, meski tinggi, ternyata statis. They are all the way they are. Ingin terlihat hebat, tetapi sebenarnya mereka mudah menyerah dalam menghadapi tantangan baru. Mereka ingin tetap berada pada hal-hal yg sudah mereka kuasai. Upaya-upaya belajar tidak ada dan sangat sensitife kritik. Keberhasilan orang lain lebih dilihat sebagai ancaman.
Hal itu berbeda benar dg orang-orang yg cepat beradaptasi menerima hal-hal baru (growth mindset). Meski sekolahnya dulu tak seberapa pintar, kecerdasan mereka dapat dikembangkan dan dilatih karena mereka terbuka terhadap masukan-masukan dan kritik.
Bagi mereka, kalau ada tantangan baru, hal itu justru merupakan kesempatan bagus untuk membuat diri menjadi lebih unggul pada bidang-bidang baru dan kegagalan adalah peluang untuk belajar, bukan akhir dari segala-galanya. Bila gagal, citra mereka tidak merasa terganggu. Bekerja lebih keras adalah jalan menjadi orang hebat. Kalau ada orang lain yg berhasil, mereka akan dijadikan kawan, bukan ancaman. Dari orang-orang hebat itulah, mereka bias berubah menjadi lebih hebat.
Kemampuan Anda mendeteksi dan menerapi 2 tipe manusia itu akan menjadi kunci sukses bagi setiap pemimpin perubahan. Apalagi bila Anda tahu cara mengubah kelompok fixed mindset menjadi growth mindset. Orang-orang yg menghambat perubahan bukanlah orang yg kurang pandai, melainkan terkurung oleh cara berpikirnya sendiri.
Demikian pula dalam membesarkan anak-anak kita. Anak-anak yg berhasil menemukan potensinya bukanlah anak-anak yg IQ-nya atau indeks prestasinya tinggi. Melainkan, apakah mindset-nya terbuka atau tertutup, mengembang atau menguncup. Tugas kita bukan membuat seseorang menjadi hebat sesaat, melainkan tumbuh berkembang, menemukan pintu masa depan dan beradaptasi dg perubahan. (*)
*) guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi.
Minggu, 05 Juni 2011
Ikan Kembung- Rhenald Kasali
Meningkatnya daya beli Indonesia ternyata tak hanya diminati Starbucks, Carefour, Petronas dan Unilever saja. Ikan kembung dan garam pun berebut masuk negeri bahari ini. Dalam dua bulan terakhir ini 5,300 ton kontainer ikan kembung ditemukan di berbagai pelabuhan utama Indonesia: Tanjung Priok, Tanjung Mas, dan Belawan. Untunglah Mentri Kelautan menolaknya masuk.
Kalau dibiarkan, maka nelayan-nelayan Indonesia akan kehilangan nafkah signifikan, meski para penikmat seafood akan dibanjiri ikan-ikan murah. Menurut istri saya, harga ikan kembung lokal di sebuah supermarket di Jakarta di atas dua puluh ribu rupiah per kilo. Sedangkan menurut para nelayan, mereka bisa menjualnya lima belas libu rupiah. Tahu berapa harga yang dilepas para importir di pasar-pasar induk? Lima ribu rupiah.
Ternyata bukan cuma ikan kembung. Ikan lele yang mudah diternak sudah diselundupkan dari Malaysia melalui perbatasan Entekong. Lele yang dikenal sebagai ikan bengis, pemakan segala dan sulit mati ini kok bisa-bisanya kalah bersaing. Di pasar Indonesia yang dihargai Rp 20.000 ternyata bisa diimpor dengan harga Rp 10.000 per kilo. Padahal Indonesia juga dikenal sebagai negeri limbah. Penduduknya buang sampah sembarangan. Sisa sawi dan roti, sogut, tempe basi, limbah ikan dan ayam, semua bisa dimakan ikan lele. Mengapa dinas-dinas peternakan justru membakar limah-limbah ayam dan ikan? Membakar butuh energy, keluar uang. Kalau diberi kepada penernak ikan akan menciptakan kemakmuran.
Selain itu, lalat, belatung, dan keong emas banyak ditemui di sini. Di Jambi saya pernah melihat belatung sebesar ibu jari. Kalau kita serius, maka lalat, belatung, dan keong mas dapat diolah menjadi protein pakan ikan.
Ekonomi Pergaraman
Berjalan kaki di sepanjang bibir pantai Sumenep, maka anda akan menyaksikan ribuan hektar tambak garam. Sayangnya dua tahun terakhir ini cuaca tidak bersahabat. Curah hujan tinggi, petambak kesulitan menjemur garam. Lantas apa solusinya? Lagi-lagi impor. Negeri ini mengimpor sebanyak 1,6 juta ton garam setiap tahunnya.
Pemandangan berbeda saya temui di sepanjang pantai menuju ibu kota Jordania, Aman. Menelusuri bibir pantai sepanjang Laut Mati, saya jarang sekali melihat tambak-tambak garam milik rakyat. Yang saya temui hanyalah satu dua pabrik berkapasitas besar yang mengolah garam yang kadarnya sangat tinggi. Di pantainya, saya menemukan kristal-kristal garam ukuran besar yang tanpa bantuan matahari sekalipun sudah mengkristal.
Masalah Garam, ikan kembung, lele, peternakan ayam dan sapi potong, sebenarnya tidak berdiri sendiri. Masa depan produksi kelautan, perikanan, sampai ke pertanian sesungguhnya saling berhubungan. Hasil yang dicapai bisa diterka sejak dua puluh tahun yang lalu. Semua berawal dari mindset perencana ekonomi yang didasarkan tiga hal.
Pertama, “Indonesia tanah surga”. Mindset ini membentuk pikiran bahwa kita tak perlu mengembangkan teknologi. Matahari bersinar sepanjang tahun, angin membawa nelayan kemana mereka ingin pergi, jaring saja sudah menjadi bekal penangkap ikan yang hebat karena lautnya kaya. Akibatnya kita sedikit sekali mengembangkan teknologi. Kerja kita adalah kerja alam, yang hanya menjadi bagus kalau tak ada persaingan. Begitu persaingan global dibuka, pemakai teknologi menyobek pertahanan pangan kita. Bahkan buah-buahan, batik, dan beras pun impor.
Kedua, “rakyat adalah kaum pekerja”. Kaum pekerja ini dulu namanya PNS, sehingga semua PNS saat itu diberi beras bulanan. Bahkan yang makan jagung atau sagu pun berganti ke beras. Sekarang rakyat itu adalah buruh, penerima upah minimal. Rakyat ini harus dilindungi dengan beras murah, bensin murah, listrik murah, sekolah gratis, dan seterusnya. Berbeda benar dengan pemerintah Jepang atau Vietnam. Di kedua negara itu, meski industrialisasi digenjot, yang disebut rakyat adalah kaum petani. Tengoklah apa muara dari mindset yang demikian: petani dan nelayan diijinkan menjual beras dan ikan dengan harga tinggi. Akibatnya petani dan nelayan hidup semakmur buruh pabrik. Punya rumah layak, traktor atau kapal bermesin dengan teknologi modern. Beda sekali dengan disini, rakyat adalah penikmat, bukan petani atau nelayan. Karena miskin, tak ada lagi yang mau jadi petani atau nelayan dan lebih senang mengimpor.
Ketiga, ”bekerja artinya turun sendiri-sendiri”. Mana ada di dunia ini bangsa yang sejahtera karena pemimpinnya jalan sendiri-sendiri? Kementerian kelautan urus garam, BBPT urus teknologi, departenen perhubungan urus kapal, perdagangan urus impor, direktorat industri kimia departemen perindustrian juga urus garam. Semuanya punya orang hebat, lulusan ITB, UGM, Unair atau IPB. Tapi semua bekerja sendiri-sendiri. Ibarat pelari sprinter yang biasa lari cepat belum tentu jago di lari estafet. kalau terlalu jago, tongkatnya jatuh saat diestafetkan.
Sekarang saatnya bekerja. Tetapi sebelum bekerja kita perlu menyamakan pikiran (mindset) dan satukan tindakan. Rakyat itulah petani dan nelayan. Berikanlah mereka harga yang bagus, maka mereka akan bertani dan melaut. Maukan kelas menengah yang sudah menggenggam handphone dan laptop membeli beras sedikit lebih mahal untuk petani? Toh uang sekolah anak sudah dibayarkan negara, listrik juga tetap di subsidi. Kalau petani dan nelayan sejahtera, besok anak-anak kita bisa tetap mendapatkan makan.
Kalau dibiarkan, maka nelayan-nelayan Indonesia akan kehilangan nafkah signifikan, meski para penikmat seafood akan dibanjiri ikan-ikan murah. Menurut istri saya, harga ikan kembung lokal di sebuah supermarket di Jakarta di atas dua puluh ribu rupiah per kilo. Sedangkan menurut para nelayan, mereka bisa menjualnya lima belas libu rupiah. Tahu berapa harga yang dilepas para importir di pasar-pasar induk? Lima ribu rupiah.
Ternyata bukan cuma ikan kembung. Ikan lele yang mudah diternak sudah diselundupkan dari Malaysia melalui perbatasan Entekong. Lele yang dikenal sebagai ikan bengis, pemakan segala dan sulit mati ini kok bisa-bisanya kalah bersaing. Di pasar Indonesia yang dihargai Rp 20.000 ternyata bisa diimpor dengan harga Rp 10.000 per kilo. Padahal Indonesia juga dikenal sebagai negeri limbah. Penduduknya buang sampah sembarangan. Sisa sawi dan roti, sogut, tempe basi, limbah ikan dan ayam, semua bisa dimakan ikan lele. Mengapa dinas-dinas peternakan justru membakar limah-limbah ayam dan ikan? Membakar butuh energy, keluar uang. Kalau diberi kepada penernak ikan akan menciptakan kemakmuran.
Selain itu, lalat, belatung, dan keong emas banyak ditemui di sini. Di Jambi saya pernah melihat belatung sebesar ibu jari. Kalau kita serius, maka lalat, belatung, dan keong mas dapat diolah menjadi protein pakan ikan.
Ekonomi Pergaraman
Berjalan kaki di sepanjang bibir pantai Sumenep, maka anda akan menyaksikan ribuan hektar tambak garam. Sayangnya dua tahun terakhir ini cuaca tidak bersahabat. Curah hujan tinggi, petambak kesulitan menjemur garam. Lantas apa solusinya? Lagi-lagi impor. Negeri ini mengimpor sebanyak 1,6 juta ton garam setiap tahunnya.
Pemandangan berbeda saya temui di sepanjang pantai menuju ibu kota Jordania, Aman. Menelusuri bibir pantai sepanjang Laut Mati, saya jarang sekali melihat tambak-tambak garam milik rakyat. Yang saya temui hanyalah satu dua pabrik berkapasitas besar yang mengolah garam yang kadarnya sangat tinggi. Di pantainya, saya menemukan kristal-kristal garam ukuran besar yang tanpa bantuan matahari sekalipun sudah mengkristal.
Masalah Garam, ikan kembung, lele, peternakan ayam dan sapi potong, sebenarnya tidak berdiri sendiri. Masa depan produksi kelautan, perikanan, sampai ke pertanian sesungguhnya saling berhubungan. Hasil yang dicapai bisa diterka sejak dua puluh tahun yang lalu. Semua berawal dari mindset perencana ekonomi yang didasarkan tiga hal.
Pertama, “Indonesia tanah surga”. Mindset ini membentuk pikiran bahwa kita tak perlu mengembangkan teknologi. Matahari bersinar sepanjang tahun, angin membawa nelayan kemana mereka ingin pergi, jaring saja sudah menjadi bekal penangkap ikan yang hebat karena lautnya kaya. Akibatnya kita sedikit sekali mengembangkan teknologi. Kerja kita adalah kerja alam, yang hanya menjadi bagus kalau tak ada persaingan. Begitu persaingan global dibuka, pemakai teknologi menyobek pertahanan pangan kita. Bahkan buah-buahan, batik, dan beras pun impor.
Kedua, “rakyat adalah kaum pekerja”. Kaum pekerja ini dulu namanya PNS, sehingga semua PNS saat itu diberi beras bulanan. Bahkan yang makan jagung atau sagu pun berganti ke beras. Sekarang rakyat itu adalah buruh, penerima upah minimal. Rakyat ini harus dilindungi dengan beras murah, bensin murah, listrik murah, sekolah gratis, dan seterusnya. Berbeda benar dengan pemerintah Jepang atau Vietnam. Di kedua negara itu, meski industrialisasi digenjot, yang disebut rakyat adalah kaum petani. Tengoklah apa muara dari mindset yang demikian: petani dan nelayan diijinkan menjual beras dan ikan dengan harga tinggi. Akibatnya petani dan nelayan hidup semakmur buruh pabrik. Punya rumah layak, traktor atau kapal bermesin dengan teknologi modern. Beda sekali dengan disini, rakyat adalah penikmat, bukan petani atau nelayan. Karena miskin, tak ada lagi yang mau jadi petani atau nelayan dan lebih senang mengimpor.
Ketiga, ”bekerja artinya turun sendiri-sendiri”. Mana ada di dunia ini bangsa yang sejahtera karena pemimpinnya jalan sendiri-sendiri? Kementerian kelautan urus garam, BBPT urus teknologi, departenen perhubungan urus kapal, perdagangan urus impor, direktorat industri kimia departemen perindustrian juga urus garam. Semuanya punya orang hebat, lulusan ITB, UGM, Unair atau IPB. Tapi semua bekerja sendiri-sendiri. Ibarat pelari sprinter yang biasa lari cepat belum tentu jago di lari estafet. kalau terlalu jago, tongkatnya jatuh saat diestafetkan.
Sekarang saatnya bekerja. Tetapi sebelum bekerja kita perlu menyamakan pikiran (mindset) dan satukan tindakan. Rakyat itulah petani dan nelayan. Berikanlah mereka harga yang bagus, maka mereka akan bertani dan melaut. Maukan kelas menengah yang sudah menggenggam handphone dan laptop membeli beras sedikit lebih mahal untuk petani? Toh uang sekolah anak sudah dibayarkan negara, listrik juga tetap di subsidi. Kalau petani dan nelayan sejahtera, besok anak-anak kita bisa tetap mendapatkan makan.
MINDSET
Setiap terlibat dalam proses transformasi, saya selalu bertemu dg 2 kelompok yg berbeda: penerima dan penentang. Semula saya menduga, para penentang adalah orang-orang yg kalah, tersingkirkan, dan maaf, kurang pandai. Tetapi, belakangan saya menemukan, orang-orang yg sangat diuntungkan oleh perubahan dan sangat pandai ternyata jg bisa bergabung dg penentang bagi perubahan yg baik. Demikian pula sebaiknya.
Tidak sulit bagi saya membaca pikiran keduanya. Sebab, hampir setiap hari Rumah Perubahan membawa titipan 2 kelompok itu. Objektifnya sederhana saja: ganti kaset. Teman-teman saya menambahkan: ganti kaset, banting setir. Persis seperti diucapkan para santri di sebuah pesantren di Lamongan.
Seperti computer yg harus di-setting sebelum dipakai, otak manusia dalam menghadapi perubahan rupanya harus diset ulang. Tentu bukan sekedar setting-an margin atas-bawah atau kiri-kanan, melainkan setting-an berpikirnya.
Kata para ahli, mindset adalah set of assumption. Jadi, ia terdiri atas asumsi-asumsi yg dianut seseorang dan sudah tidak cocok dg kebutuhan yg baru. Dalam banyak hal, mereka terkurung pikiran-pikiran dan anggapan-anggapannya sendiri.
Melalui rangkaian proses terapi selama 2-3 hari, kami menyetel ulang. Tentu saja, orang-orang ini harus dibawa ke titik nol lebih dahulu, dikosongkan dari pikiran-pikiran lamanya. Tetapi, proses mengisinya tidak bisa dilakukan secara konvensional. Melalui rangkaian proses bermain dan melatih muscle memory (myelin), pikiran-pikiran baru itu ditata ulang.
Tentu saja, tidak semua orang siap berubah. Tetapi, orang-orang yg mau berubah pasti akan menemukan settingan baru. Seperti kata ahli perilaku Carol Dweck dari Stanford, kami mengamati 2 jenis mindset. Yaitu, growth mindset yg siap berubah dan fixed mindset yg merasa sudah selesai.
Saya sering mengatakan, orang bodoh tak akan selamanya bodoh. Demikian pula orang pintar. Pengamatan saya sela 25 tahun lebih berkarir di kampus, ada orang yg dulunya bodoh menjadi pintar dan ada orang pintar yg berubah menjadi bodoh.
Para Penentang
Aneh sekali, para penentang perubahan biasanya terdiri atas orang-orang yg merasa dirinya pintar. Ternyata, mereka benar-benar pintar berbicara, pandai member argumentasi. Masalahnya, menurut Bu Dweck, mereka itu masuk dalam kategori fixed mindset dg cirri-ciri sebagai berikut.
Pertama, tingkat kecerdasan mereka, meski tinggi, ternyata statis. They are all the way they are. Ingin terlihat hebat, tetapi sebenarnya mereka mudah menyerah dalam menghadapi tantangan baru. Mereka ingin tetap berada pada hal-hal yg sudah mereka kuasai. Upaya-upaya belajar tidak ada dan sangat sensitife kritik. Keberhasilan orang lain lebih dilihat sebagai ancaman.
Hal itu berbeda benar dg orang-orang yg cepat beradaptasi menerima hal-hal baru (growth mindset). Meski sekolahnya dulu tak seberapa pintar, kecerdasan mereka dapat dikembangkan dan dilatih karena mereka terbuka terhadap masukan-masukan dan kritik.
Bagi mereka, kalau ada tantangan baru, hal itu justru merupakan kesempatan bagus untuk membuat diri menjadi lebih unggul pada bidang-bidang baru dan kegagalan adalah peluang untuk belajar, bukan akhir dari segala-galanya. Bila gagal, citra mereka tidak merasa terganggu. Bekerja lebih keras adalah jalan menjadi orang hebat. Kalau ada orang lain yg berhasil, mereka akan dijadikan kawan, bukan ancaman. Dari orang-orang hebat itulah, mereka bias berubah menjadi lebih hebat.
Kemampuan Anda mendeteksi dan menerapi 2 tipe manusia itu akan menjadi kunci sukses bagi setiap pemimpin perubahan. Apalagi bila Anda tahu cara mengubah kelompok fixed mindset menjadi growth mindset. Orang-orang yg menghambat perubahan bukanlah orang yg kurang pandai, melainkan terkurung oleh cara berpikirnya sendiri.
Demikian pula dalam membesarkan anak-anak kita. Anak-anak yg berhasil menemukan potensinya bukanlah anak-anak yg IQ-nya atau indeks prestasinya tinggi. Melainkan, apakah mindset-nya terbuka atau tertutup, mengembang atau menguncup. Tugas kita bukan membuat seseorang menjadi hebat sesaat, melainkan tumbuh berkembang, menemukan pintu masa depan dan beradaptasi dg perubahan. (*)
*) guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi.
Tidak sulit bagi saya membaca pikiran keduanya. Sebab, hampir setiap hari Rumah Perubahan membawa titipan 2 kelompok itu. Objektifnya sederhana saja: ganti kaset. Teman-teman saya menambahkan: ganti kaset, banting setir. Persis seperti diucapkan para santri di sebuah pesantren di Lamongan.
Seperti computer yg harus di-setting sebelum dipakai, otak manusia dalam menghadapi perubahan rupanya harus diset ulang. Tentu bukan sekedar setting-an margin atas-bawah atau kiri-kanan, melainkan setting-an berpikirnya.
Kata para ahli, mindset adalah set of assumption. Jadi, ia terdiri atas asumsi-asumsi yg dianut seseorang dan sudah tidak cocok dg kebutuhan yg baru. Dalam banyak hal, mereka terkurung pikiran-pikiran dan anggapan-anggapannya sendiri.
Melalui rangkaian proses terapi selama 2-3 hari, kami menyetel ulang. Tentu saja, orang-orang ini harus dibawa ke titik nol lebih dahulu, dikosongkan dari pikiran-pikiran lamanya. Tetapi, proses mengisinya tidak bisa dilakukan secara konvensional. Melalui rangkaian proses bermain dan melatih muscle memory (myelin), pikiran-pikiran baru itu ditata ulang.
Tentu saja, tidak semua orang siap berubah. Tetapi, orang-orang yg mau berubah pasti akan menemukan settingan baru. Seperti kata ahli perilaku Carol Dweck dari Stanford, kami mengamati 2 jenis mindset. Yaitu, growth mindset yg siap berubah dan fixed mindset yg merasa sudah selesai.
Saya sering mengatakan, orang bodoh tak akan selamanya bodoh. Demikian pula orang pintar. Pengamatan saya sela 25 tahun lebih berkarir di kampus, ada orang yg dulunya bodoh menjadi pintar dan ada orang pintar yg berubah menjadi bodoh.
Para Penentang
Aneh sekali, para penentang perubahan biasanya terdiri atas orang-orang yg merasa dirinya pintar. Ternyata, mereka benar-benar pintar berbicara, pandai member argumentasi. Masalahnya, menurut Bu Dweck, mereka itu masuk dalam kategori fixed mindset dg cirri-ciri sebagai berikut.
Pertama, tingkat kecerdasan mereka, meski tinggi, ternyata statis. They are all the way they are. Ingin terlihat hebat, tetapi sebenarnya mereka mudah menyerah dalam menghadapi tantangan baru. Mereka ingin tetap berada pada hal-hal yg sudah mereka kuasai. Upaya-upaya belajar tidak ada dan sangat sensitife kritik. Keberhasilan orang lain lebih dilihat sebagai ancaman.
Hal itu berbeda benar dg orang-orang yg cepat beradaptasi menerima hal-hal baru (growth mindset). Meski sekolahnya dulu tak seberapa pintar, kecerdasan mereka dapat dikembangkan dan dilatih karena mereka terbuka terhadap masukan-masukan dan kritik.
Bagi mereka, kalau ada tantangan baru, hal itu justru merupakan kesempatan bagus untuk membuat diri menjadi lebih unggul pada bidang-bidang baru dan kegagalan adalah peluang untuk belajar, bukan akhir dari segala-galanya. Bila gagal, citra mereka tidak merasa terganggu. Bekerja lebih keras adalah jalan menjadi orang hebat. Kalau ada orang lain yg berhasil, mereka akan dijadikan kawan, bukan ancaman. Dari orang-orang hebat itulah, mereka bias berubah menjadi lebih hebat.
Kemampuan Anda mendeteksi dan menerapi 2 tipe manusia itu akan menjadi kunci sukses bagi setiap pemimpin perubahan. Apalagi bila Anda tahu cara mengubah kelompok fixed mindset menjadi growth mindset. Orang-orang yg menghambat perubahan bukanlah orang yg kurang pandai, melainkan terkurung oleh cara berpikirnya sendiri.
Demikian pula dalam membesarkan anak-anak kita. Anak-anak yg berhasil menemukan potensinya bukanlah anak-anak yg IQ-nya atau indeks prestasinya tinggi. Melainkan, apakah mindset-nya terbuka atau tertutup, mengembang atau menguncup. Tugas kita bukan membuat seseorang menjadi hebat sesaat, melainkan tumbuh berkembang, menemukan pintu masa depan dan beradaptasi dg perubahan. (*)
*) guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi.
Kamis, 19 Mei 2011
Celoteh Konselor -1

Guru BK akan "dibantu" dosen UNESA untuk Classroom Action Research (PTK-BK)dan penulisan Karya Tulis Ilmiah-nya..OMG,kenapa tidak dibentuk saja kelompok guru pembelajar,betapa ilmu menjadi susah dan mahal untuk dicari, dipahami, apalagi diimplementasikan.
Jika ini hanya untuk sebagai upaya memuluskan sertifikasi, betapa picik pemikirannya. Fakta membuktikan, bahkan guru yang tak sesuai bidang keilmuannya sudah banyak yang lolos sertifikasi.
Sementara tak terhitung pula jumlah guru yang belum mendapatkan haknya. Buruh Guru??
*
"Oh..muridku, cobalah tenang dulu.Kamu sudah aktif berlarian kesana-kemari, bermain sepak bola di lapangan tengah saat istirahat tadi, lantas ke kamar mandi ijinmu, kakimu terus kamu langkahkan ke kantin.Maukah kamu belajar bersamaku. Belajar tentang hidup yang harus diperjuangkan,apa pun keadaannya.
Tak sampaikah hatiku ini, ke hatimu?"
Kamis, 23 April 2009
Choose to be Happy
Choose to be Happy
Inspired by : David Niven, Ph.D
File : Kecerdasan Intrapersonal
Kita semua pasti punya citra diri ideal yang timbul dari pengenalan sama diri sendiri (udah pernah introspeksi, kan), karakter sifat dan sikap yang ingin disempurnakan, ingin menjadi pribadi seperti apa, ingin ada dalam kondisi hidup yang bagaimana, dan sebagainya. Kita semua punya keinginan atau cita-cita. Mungkin kita tak bisa merancang secara teknis dan rinci tapi blue print secara garis besar tentu ada. Aku sendiri bila ditanya, “apa keinginan dirimu?”- aku ingin jadi pribadi yang sehat, sukses dan bahagia. Just it, nah nanti tinggal dioperasionalkan di setiap aspek hidup kita, seperti keterkaitannya dengan keberadaan lingkungan, keluarga, aktualisasi diri, penghasilan dan sebagainya. Bisa juga dibuat mind map dari tiga pokok utama itu. Mau sehat yang bagaimana, cukup hanya dengan minum air putih, makan buah dan sayur yang banyak?!, atau pikiran yang harus dijaga biar ga depresi..(uff..kawan, kalau kau tau rasanya, hopeless banget waktu depresi, diri yang hidup jadi mati rasa). Mau sukses yang seperti apa, di bidang apa saja, be a leader, mapan, kaya, pinter, ini tentang pilihan aktualisasi diri. Atau mau bahagia seperti apa, being free, punya keluarga sebagai supporting system yang solid, ini tentang cara mewujudkan impian.
Oke, hal-hal yang ingin aku share-kan ke kawan-kawan seputar kebahagiaan dulu. Bahagia yang sifatnya relatif dan bukan berarti saat ini aku lebih bahagia dari kalian semua. Tapi, bukankah menjadi bahagia dan kurang bahagia (sedih/murung/hopeless) itu menjadi sebuah pilihan setiap hari.
Ternyata, kita perlu punya strategi untuk mencapai kebahagiaan. Kadangkala kita menganggap bahwa orang-orang bahagia dan tidak bahagia sudah ditentukan sejak lahir. Yah..kita kan sering melakukan komparasi dengan orang lain, padahal kawan-kawan, kebahagiaan kita sendiri itu sejatinya tidak layak untuk diukur dengan kebahagiaan orang lain, relatif. Namun sesungguhnya, dua macam manusia (yang bahagia dan tak bahagia) ini melakukan dua hal yang berbeda. Orang-orang bahagia membiarkan diri mereka bahagia, sedangkan orang-orang yang tidak bahagia, secara sadar atau tidak, terus melakukan hal-hal yang mengesalkan diri mereka.
Analogi sederhananya, kita bisa belajar dari anak kecil. Mereka tahu pasti, kapan harus merajuk minta dibelikan es krim. Anak kecil itu juga tahu, kapan harus ribut biar dapat perhatian dari orangtuanya. Mereka paham ada aturan dan pola yang bisa ditebak dalam hidup. Mereka memakai strategi untuk mendapat apa yang mereka inginkan.
Meraih hidup bahagia sebagai orang dewasa, sama dengan seorang anak kecil yang mencoba mendapat es krim. Kita harus tahu apa yang kita inginkan, lalu gunakan strategi untuk mendapatkannya. Pikirkan apa sih yang membuat kita bahagia dan apa yang membuat kita sedih. Lalu gunakan itu untuk mencapai apa yang kita inginkan. Introspeksi tuh perlu.
”orang bahagia” tidak terus-terusan sukses. Begitu juga sebaliknya, ”orang tidak bahagia” tidak terus-terusan gagal. Beragam penelitian menunjukkan bahwa ”orang bahagia” dan ”orang tidak bahagia” cenderung punya pengalaman hidup yang serupa. Bedanya, rata-rata ”orang tidak bahagia” menghabiskan waktu dua kali lebih banyak untuk memikirkan kejadian yang tidak menyenangkan. Sementara ”orang bahagia” cenderung mencari informasi yang membuka wawasan mereka (Lyubomirsky, 1994).
So, hopefully we can be happy people!!
Tetap senyum ;-)
Inspired by : David Niven, Ph.D
File : Kecerdasan Intrapersonal
Kita semua pasti punya citra diri ideal yang timbul dari pengenalan sama diri sendiri (udah pernah introspeksi, kan), karakter sifat dan sikap yang ingin disempurnakan, ingin menjadi pribadi seperti apa, ingin ada dalam kondisi hidup yang bagaimana, dan sebagainya. Kita semua punya keinginan atau cita-cita. Mungkin kita tak bisa merancang secara teknis dan rinci tapi blue print secara garis besar tentu ada. Aku sendiri bila ditanya, “apa keinginan dirimu?”- aku ingin jadi pribadi yang sehat, sukses dan bahagia. Just it, nah nanti tinggal dioperasionalkan di setiap aspek hidup kita, seperti keterkaitannya dengan keberadaan lingkungan, keluarga, aktualisasi diri, penghasilan dan sebagainya. Bisa juga dibuat mind map dari tiga pokok utama itu. Mau sehat yang bagaimana, cukup hanya dengan minum air putih, makan buah dan sayur yang banyak?!, atau pikiran yang harus dijaga biar ga depresi..(uff..kawan, kalau kau tau rasanya, hopeless banget waktu depresi, diri yang hidup jadi mati rasa). Mau sukses yang seperti apa, di bidang apa saja, be a leader, mapan, kaya, pinter, ini tentang pilihan aktualisasi diri. Atau mau bahagia seperti apa, being free, punya keluarga sebagai supporting system yang solid, ini tentang cara mewujudkan impian.
Oke, hal-hal yang ingin aku share-kan ke kawan-kawan seputar kebahagiaan dulu. Bahagia yang sifatnya relatif dan bukan berarti saat ini aku lebih bahagia dari kalian semua. Tapi, bukankah menjadi bahagia dan kurang bahagia (sedih/murung/hopeless) itu menjadi sebuah pilihan setiap hari.
Ternyata, kita perlu punya strategi untuk mencapai kebahagiaan. Kadangkala kita menganggap bahwa orang-orang bahagia dan tidak bahagia sudah ditentukan sejak lahir. Yah..kita kan sering melakukan komparasi dengan orang lain, padahal kawan-kawan, kebahagiaan kita sendiri itu sejatinya tidak layak untuk diukur dengan kebahagiaan orang lain, relatif. Namun sesungguhnya, dua macam manusia (yang bahagia dan tak bahagia) ini melakukan dua hal yang berbeda. Orang-orang bahagia membiarkan diri mereka bahagia, sedangkan orang-orang yang tidak bahagia, secara sadar atau tidak, terus melakukan hal-hal yang mengesalkan diri mereka.
Analogi sederhananya, kita bisa belajar dari anak kecil. Mereka tahu pasti, kapan harus merajuk minta dibelikan es krim. Anak kecil itu juga tahu, kapan harus ribut biar dapat perhatian dari orangtuanya. Mereka paham ada aturan dan pola yang bisa ditebak dalam hidup. Mereka memakai strategi untuk mendapat apa yang mereka inginkan.
Meraih hidup bahagia sebagai orang dewasa, sama dengan seorang anak kecil yang mencoba mendapat es krim. Kita harus tahu apa yang kita inginkan, lalu gunakan strategi untuk mendapatkannya. Pikirkan apa sih yang membuat kita bahagia dan apa yang membuat kita sedih. Lalu gunakan itu untuk mencapai apa yang kita inginkan. Introspeksi tuh perlu.
”orang bahagia” tidak terus-terusan sukses. Begitu juga sebaliknya, ”orang tidak bahagia” tidak terus-terusan gagal. Beragam penelitian menunjukkan bahwa ”orang bahagia” dan ”orang tidak bahagia” cenderung punya pengalaman hidup yang serupa. Bedanya, rata-rata ”orang tidak bahagia” menghabiskan waktu dua kali lebih banyak untuk memikirkan kejadian yang tidak menyenangkan. Sementara ”orang bahagia” cenderung mencari informasi yang membuka wawasan mereka (Lyubomirsky, 1994).
So, hopefully we can be happy people!!
Tetap senyum ;-)
Selasa, 07 April 2009
School Bullying
Kawan, kali ini aku ingin mengajakmu menilik cela pada organ pendidikan di negri terkasih ini. Tentang fenomena tindak kekerasan di institusi pendidikan namun yang dibahas bukan kekerasan yang sudah tersistematik seperti kasus di IPDN dan akademi (ala) militerianisme. Kalau yang seperti itu, mereka sudah berasumsi bahwa kedisiplinan, keteraturan dan kepatuhan pada peraturan hanya bisa ditempuh dengan pressure fisik. Jika orang awam yang menilai, itu sama artinya dengan kekejaman yang sudah tentu semua setuju bahwa pressure itu akan mempengaruhi mahasiswa secara psikologis. (wajar mungkin ya, lulusan SMA bisa dibodohi dengan pendidikan yang tidak memanusiakan manusia, non humanistik). Hehe..guyonan apa pula di abad 21 ini. Berhenti sampai disini, karena bukan fenomena jenis ini yang basi untuk diulas, tapi tampilan diatas hanya sebagai pengantar bahwa ternyata kejahatan itu juga ada di sekolah. Ya, faktanya kekerasan dan penindasan pada pihak yang dianggap lemah ada dimana pun, dengan jangka waktu tidak tak terbatas, sejak semua makhluk mengawali hari dengan kesadaran dari tidur, membuka mata.
Berita yang hangat secara teratur beredar di media akhir-akhir ini adalah kasus kekerasan antar teman. Lebih dikenal dengan istilah bullying. Peristiwa semacam ini sudah menjadi trend yang sudah lama terjadi di belahan negara lain, di luar negeri sana. Isu berbau SARA menjadi salah satu pemicunya, rasisme (black or white). Bagaimana di Indonesia? Apakah karena perkembangan media yang makin canggih, hingga kasus per kasus bisa terungkap keluar, apakah sebenarnya tindak kekerasan ini juga tak jauh beda frekuensinya dengan di luar negri, hanya saja lagi-lagi karena perkembangan IPTEK, maka berita ini kini dengan mudah bisa menjadi rahasia umum dan konsumsi publik juga?- rekaman lewat hp sudah melatih teman yang hanya bisa jadi penonton berinisiatif untuk mengabadikan peristiwa, hm..latihan menjadi kameramen. Itu jika ia tidak bisa melerai, akan lebih jahat jika ia tidak ingin melerai, maka peran yang dipilih adalah menjadi provokator yang memanaskan situasi perkelahian atau pengeroyokan kedua belah pihak teman-(ayo..ayo..hajar terus sampai teler- ah, masa’ ga berani balas- sikat sikutnya!!)
Kata ahli: Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Mereka kemudian mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori:
• Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
• Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
• Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
• Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
• Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Miris kan..kekhawatiran kita sebagai pendidik-apakah ada anak didikku yang merasa tersakiti dan dilecehkan. Karena kalau boleh sedikit sharing, aku juga pernah jadi korban waktu SD, dampaknya aku merasa di posisi yang tersudut karena teman. Iri hati, dengki, hobi menyakiti bisa jadi pemicunya.
Dari beberapa penelitian di luar negeri, juga ditemukan perbedaan umur dan gender yang dapat mempengaruhi perilaku bullying. Pada usia 15 tahun, anak laki-laki ditemukan lebih cenderung mem-bully dengan kontak fisik langsung, sementara anak perempuan lebih cenderung mem-bully dengan perilaku tidak langsung. Namun tidak ditemukan perbedaan dalam kecenderungan melakukan bullying verbal langsung. Pada usia 18 tahun, kecenderungan anak laki-laki mem-bully dengan kontak fisik menurun tajam, dan kecenderungannya untuk menggunakan perilaku verbal langsung dan perilaku tidak langsung meningkat, meskipun anak perempuan masih tetap lebih tinggi kecenderungannya dalam hal ini.
Sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak-pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berpikir mereka dan menghentikan siklus ini, yaitu pihak sekolah dan orangtua. Korban biasanya merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka. Akibatnya, korban bisa semakin menyerap ’falsafah’ bullying yang didapat dari seniornya. Dalam skema kognitif korban yang diteliti oleh Riauskina dkk., korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena
• Tradisi
• Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)
• Ingin menunjukkan kekuasaan
• Marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan
• Mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)
• Iri hati (menurut korban perempuan)
Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena
• Penampilan menyolok
• Tidak berperilaku dengan sesuai
• Perilaku dianggap tidak sopan
• Tradisi
Nah, bicara soal dampak bullying, yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Selain itu, dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.
Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). Dari 2 SMA yang diteliti Riauskina dkk., hal-hal ini juga dialami korban, seperti merasa hidupnya tertekan, takut bertemu pelaku bullying, bahkan depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri dengan menyilet-nyilet tangannya sendiri!
Solusi
Preventif & Preseveratif: sedini mungkin, anak-anak memperoleh lingkungan yang tepat. Keluarga-keluarga semestinya dapat menjadi tempat yang nyaman untuk anak dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaannya. Orang tua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang dimiliki selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Ortu bisa memberi penguatan atau pujian pada perilaku pro sosial yang ditunjukkan oleh anak. Kemudian dorong anak untuk mengembangkan bakat atau minatnya dalam kegiatan-kegiatan dan orang tua tetap harus berkomunikasi dengan guru jika anak menunjukkan adanya masalah yang bersumber dari sekolah.
Untuk mencegah dan menekan tindakan bullying di sekolah, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah, terutama di sekolah dasar sebagai lingkungan pendidikan formal pertama bagi anak. Selama ini, kebanyakan guru tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di antara murid-muridnya. Sangat penting bahwa para guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai pencegahan dan cara mengatasi bullying. Kurikulum sekolah semestinya mengandung unsur pengembangan sikap prososial dan guru-guru memberikan penguatan pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Sekolah sebaiknya mendukung kelompok-kelompok kegiatan agar diikuti oleh seluruh siswa. Selanjutnya sekolah menyediakan akses pengaduan atau forum dialog antara siswa dan sekolah, atau orang tua dan sekolah, dan membangun aturan sekolah dan sanksi yang jelas terhadap tindakan bullying.
Kuratif: Nah, ini bagian keahlian kita kawan, bagimu yang memang beraksi untuk menjadi konselor yang ciamik. Hal yang penting adalah peka dan tanggap dengan situasi PBM (Proses Belajar Mengajar) di sekolah, cukup kondusifkah? Atau ada siswa yang tampak lesu dan tertekan-mungkin karena dia tak punya uang, dipalak tiap hari oleh kakak kelas, atau bisa jadi ada yang lebam dan memar, bukan karena dia kejatuhan bola basket waktu olahraga, ada yang sering bolos karena ketakutan di sekolah, ada yang terkunci di kamar mandi- mungkin sengaja di kunci teman sendiri?, ada keributan di tempat parkir-oh..pengeroyokan geng nero, ada yang sakit hati karena pacar direbut teman sekelas-lalu memaki?-atau bisa juga karena rebutan satu pujaan hati yang sama, aih..banyak ragam kemungkinan kasusnya.
Pakai konseling strategi apa? Sikapilah srtiap kasus itu dengan bijak. Bisa Cognitive-Behaviour Therapy-REBT, Konseling Kelompok dengan mendamaikan kedua pihak yang bertikai-konseling realita, kursi kosong, bimbingan penanaman moral kepribadian yang baik, atau cara penanganan apa pun itu sesuai apa yang kita pikir benar, efektif dan efisien.
Sampai disini dulu ulasanku, Semangat terus kawan dan Berdamailah dengan diri sendiri sebelum coba mendamaikan orang lain.
With Love,
Dian Andra R.H
dejava_18@yahoo.com
diandra-freshmind.blogspot.com
Sumber Pendukung:
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13
Berita yang hangat secara teratur beredar di media akhir-akhir ini adalah kasus kekerasan antar teman. Lebih dikenal dengan istilah bullying. Peristiwa semacam ini sudah menjadi trend yang sudah lama terjadi di belahan negara lain, di luar negeri sana. Isu berbau SARA menjadi salah satu pemicunya, rasisme (black or white). Bagaimana di Indonesia? Apakah karena perkembangan media yang makin canggih, hingga kasus per kasus bisa terungkap keluar, apakah sebenarnya tindak kekerasan ini juga tak jauh beda frekuensinya dengan di luar negri, hanya saja lagi-lagi karena perkembangan IPTEK, maka berita ini kini dengan mudah bisa menjadi rahasia umum dan konsumsi publik juga?- rekaman lewat hp sudah melatih teman yang hanya bisa jadi penonton berinisiatif untuk mengabadikan peristiwa, hm..latihan menjadi kameramen. Itu jika ia tidak bisa melerai, akan lebih jahat jika ia tidak ingin melerai, maka peran yang dipilih adalah menjadi provokator yang memanaskan situasi perkelahian atau pengeroyokan kedua belah pihak teman-(ayo..ayo..hajar terus sampai teler- ah, masa’ ga berani balas- sikat sikutnya!!)
Kata ahli: Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Mereka kemudian mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori:
• Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
• Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
• Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
• Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
• Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Miris kan..kekhawatiran kita sebagai pendidik-apakah ada anak didikku yang merasa tersakiti dan dilecehkan. Karena kalau boleh sedikit sharing, aku juga pernah jadi korban waktu SD, dampaknya aku merasa di posisi yang tersudut karena teman. Iri hati, dengki, hobi menyakiti bisa jadi pemicunya.
Dari beberapa penelitian di luar negeri, juga ditemukan perbedaan umur dan gender yang dapat mempengaruhi perilaku bullying. Pada usia 15 tahun, anak laki-laki ditemukan lebih cenderung mem-bully dengan kontak fisik langsung, sementara anak perempuan lebih cenderung mem-bully dengan perilaku tidak langsung. Namun tidak ditemukan perbedaan dalam kecenderungan melakukan bullying verbal langsung. Pada usia 18 tahun, kecenderungan anak laki-laki mem-bully dengan kontak fisik menurun tajam, dan kecenderungannya untuk menggunakan perilaku verbal langsung dan perilaku tidak langsung meningkat, meskipun anak perempuan masih tetap lebih tinggi kecenderungannya dalam hal ini.
Sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak-pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berpikir mereka dan menghentikan siklus ini, yaitu pihak sekolah dan orangtua. Korban biasanya merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka. Akibatnya, korban bisa semakin menyerap ’falsafah’ bullying yang didapat dari seniornya. Dalam skema kognitif korban yang diteliti oleh Riauskina dkk., korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena
• Tradisi
• Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)
• Ingin menunjukkan kekuasaan
• Marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan
• Mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)
• Iri hati (menurut korban perempuan)
Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena
• Penampilan menyolok
• Tidak berperilaku dengan sesuai
• Perilaku dianggap tidak sopan
• Tradisi
Nah, bicara soal dampak bullying, yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Selain itu, dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.
Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). Dari 2 SMA yang diteliti Riauskina dkk., hal-hal ini juga dialami korban, seperti merasa hidupnya tertekan, takut bertemu pelaku bullying, bahkan depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri dengan menyilet-nyilet tangannya sendiri!
Solusi
Preventif & Preseveratif: sedini mungkin, anak-anak memperoleh lingkungan yang tepat. Keluarga-keluarga semestinya dapat menjadi tempat yang nyaman untuk anak dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaannya. Orang tua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang dimiliki selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Ortu bisa memberi penguatan atau pujian pada perilaku pro sosial yang ditunjukkan oleh anak. Kemudian dorong anak untuk mengembangkan bakat atau minatnya dalam kegiatan-kegiatan dan orang tua tetap harus berkomunikasi dengan guru jika anak menunjukkan adanya masalah yang bersumber dari sekolah.
Untuk mencegah dan menekan tindakan bullying di sekolah, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah, terutama di sekolah dasar sebagai lingkungan pendidikan formal pertama bagi anak. Selama ini, kebanyakan guru tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di antara murid-muridnya. Sangat penting bahwa para guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai pencegahan dan cara mengatasi bullying. Kurikulum sekolah semestinya mengandung unsur pengembangan sikap prososial dan guru-guru memberikan penguatan pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Sekolah sebaiknya mendukung kelompok-kelompok kegiatan agar diikuti oleh seluruh siswa. Selanjutnya sekolah menyediakan akses pengaduan atau forum dialog antara siswa dan sekolah, atau orang tua dan sekolah, dan membangun aturan sekolah dan sanksi yang jelas terhadap tindakan bullying.
Kuratif: Nah, ini bagian keahlian kita kawan, bagimu yang memang beraksi untuk menjadi konselor yang ciamik. Hal yang penting adalah peka dan tanggap dengan situasi PBM (Proses Belajar Mengajar) di sekolah, cukup kondusifkah? Atau ada siswa yang tampak lesu dan tertekan-mungkin karena dia tak punya uang, dipalak tiap hari oleh kakak kelas, atau bisa jadi ada yang lebam dan memar, bukan karena dia kejatuhan bola basket waktu olahraga, ada yang sering bolos karena ketakutan di sekolah, ada yang terkunci di kamar mandi- mungkin sengaja di kunci teman sendiri?, ada keributan di tempat parkir-oh..pengeroyokan geng nero, ada yang sakit hati karena pacar direbut teman sekelas-lalu memaki?-atau bisa juga karena rebutan satu pujaan hati yang sama, aih..banyak ragam kemungkinan kasusnya.
Pakai konseling strategi apa? Sikapilah srtiap kasus itu dengan bijak. Bisa Cognitive-Behaviour Therapy-REBT, Konseling Kelompok dengan mendamaikan kedua pihak yang bertikai-konseling realita, kursi kosong, bimbingan penanaman moral kepribadian yang baik, atau cara penanganan apa pun itu sesuai apa yang kita pikir benar, efektif dan efisien.
Sampai disini dulu ulasanku, Semangat terus kawan dan Berdamailah dengan diri sendiri sebelum coba mendamaikan orang lain.
With Love,
Dian Andra R.H
dejava_18@yahoo.com
diandra-freshmind.blogspot.com
Sumber Pendukung:
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13
Jumat, 03 April 2009
Happy People-David Niven
"Hidup Kita tuh punya TUJUAN dan MAKNA" Kita kan ga ada di dunia hanya untuk mengisi suatu tempat atau jadi pemeran tambahan dalam film yg dibintangi orang lain. Ga akan ada yang sama jika kita ga ada. Semua tempat yg kita kunjungi dan setiap orang yang kita ajak bicara, akan beda tanpa kita. Kita semua terhubung satu sama lain. Dan kita semua terpengaruh berbagai keputusan dan keberadaan orang-orang disekitar kita.
Langganan:
Postingan (Atom)